Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir ‘Uqdah
Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu perbuatan yang amat mulia adn sangat penting. Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat kaum mukminin dalam kehidupan di dunia & di akhirat, seperti dalam firman-Nya :
“...Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu & bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat…” (Al Hujuraat : 10)
Persaudaraan yg terjalin di antara kaum mukmin sesungguhnya merupakan anugerah nikmat yg sangat besar dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :
“..Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk…”( Ali Imran : 103)
“…Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana…” (QS. Al-Anfaal :62-63)
Seiring perjalanan waktu, tali ukhuwah yg telah terjalin terkadang bisa mengendur, bahkan putus sama sekali dikarenakan virus-virus yg berjangkit di hati, antara lain :
1. Tamak akan kenikmatan dunia
Banyak kasus dua orang sahabat yg saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat utk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan gemerlap dunia & berlomba-lomba utk mendapatkannya.Apa yg akan kita lakukan seandainya ada peluang rizki di mana kita & saudara kita sama-sama membutuhkan? Sering terjadi dua orang sahabat saling bersaing, saling jegal demi mendapatkan satu pekerjaan.Di sinilah sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.
Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yg seperti dilakukan oleh kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam Al Hasyr : 9 berikut ini.
“…Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung…” (Al Hasyr : 9)
2. Tidak santun dalam berbicara
2. Tidak santun dalam berbicara
Hal ini merupakan pintu yg paling leluasa bagi setan utk masuk menebar bibit-bibit perselisihan & permusuhan di antara sahabat.Banyak yg beranggapan, hubungan istimewa yg terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yg sopan.
Contoh gaya bicara kepada saudara kita yg harus dihindari adalah :
· Berbicara dengan nada suara tinggi & menggunakan kata-kata kasar
Di dalam Al Quran, Allah mengisahkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya :
“…Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[ dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai…” (QS. Luqman : 19)
Ali bin Abu Thalib berkata : “Barangsiapa lembut tutur atanya, niscaya manusia suka dengannya”.
· Tidak mendengar saran saudaranya, enggan menatap ketika berbicara / memberi salam, tdk menghargai keberadaannya
Seorang ulama salaf berkata : “Ada orang yg memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku utk tetap mendengarnya hingga selesai.”
Kemuliaan akhlak Rasulullah membawa beliau utk tetap mndengar & tdk memotong kata-kata seorang musyrik bernama ‘Utbah. Ketika berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan ‘Utbah)?”
· Bercanda secara berlebihan
Canda ringan dalam batas kesopanan & tdk keluar dari ruang lingkup yg benar akan menambah kelenturan & kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, canda yg berlebihan & melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.
· Sering mendebat & membantah
Sering mendebat & membantah diikuti oleh dampak begatif lainnya seperti menganggap unggul ide, sering mengkritik ide sahabat, sok tahu, menggunakan kata-kata pedas yg bernada merendahkan pemahaman, cara berpikir, & kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yg dapat memicu rasa benci & dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan yg seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran. Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yg masih samar, tanpa dalih argumen yg jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berbicara, kendati tiada hasil yg dicapai, selain memperburuk hubungan dan mengubah sikap. Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya orang yg paling dibenci oleh Allah adalah orang yg sangat keras kepala dan suka membantah” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasai, Tirmidzi, Ahmad)
“Tiada kaum yg menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka suka saling berbantah-bantahan” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
“Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman surga – yg diperuntukkan – bagi orang-orang yg menghindari perdebatan (perselisihan) , sekalipun dalam posisi yg benar” (HR. Abu Dawud)
· Kritikan keras yg melukai perasaan
Salah satu faktor yg dapat merusak suasana pembicaraan & hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras / kritikan yg tdk argumentatif. Seperti ungkapan : “Semua yg kamu katakan adalah salah, tdk memiliki dalil yg menguatkan.” Atau : “Kamu berseberangan dengan saya.”
Jika antum seorang yg beretika baik, seharusnya yg antum katakan adalah : “Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”, “Menurut hemat saya….”, “Saya mempunyai ide lain, harap antum menyimaknya & memberi penilaian”, & ungkapan-ungkapan serupa lainnya.
3. Sikap Acuh/tidak care / cuek
Ukhuwah yg tdk dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yg kering.Ia akan segera gugur dan luntur.
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd & Ibnu Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan, menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya, dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat.Subhanallah….Itulah perasaan yg membuat seseorang merindukan saudaranya, sehingga berangan-angan agar tdk berpisah darinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Berempati atas semua musibah dan penderitaan yg dialami saudara / sahabat serta memperhatikan keperluan-keperluannya merupakan salah satu hal yg bisa mempererat ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata : “Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar-benar tdk bisa tinggal diam. (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 143).
Perasaan yg tulus juga akan mendorong seseorang utk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut namanya dalam waktu-waktu terkabulnya doa.
Sabda Rasulullah :
“Doa seorang muslim utk kebaikan saudaranya yg dilakukan dari kejauhan, niscaya akan dikabulkan”.(HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)
4. Mengadakan Pembicaraan Rahasia
“…Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal…” (QS. Al Mujaadilah : 10)
Dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat pembicaraan rahasia , kecuali jika orang ketiga mengizinkan, karena perbuatan itu dapat membuatnya sedih”. (HR. Ahmad)
5. Keras kepala, enggan menerima nasihat dan saran
Sikap keras kepala & enggan mnerima nasihat, membuat seorang sahabat merasakan adanya dinding pemisah antara diri antum dan dirinya.Ia merasa sulit utk terbuka dalam setiap pembicaraan dengan antum, bahkan -mungkin- menganggapmu sombong.
Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat dan istri-istri beliau utk memberikan ide & saran dalam berbagai hal. Beliau mau menerima & menuruti saran mereka dengan senang hati, sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan, kritik, / sekedar pertanyaan.
6. Sering membantah, berbeda sikap & bersikap sombong & kasar
Untuk menambah kehangatan ukhuwah, dua orang yg bersahabat mesti memiliki beberapa kesamaan sifat, kebiasaan, & watak. Pepatah mengatakan : “Burung-burung bergerombol dengan sesama jenisnya.”
Malik bin Dinar berkata : “Dua insan tdk akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yg sama dengan sahabatnya.”
Karena itu, betapa banyak orang yg berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yg sangat dekat.Hal tersebut biasa terjadi karena antum menemukan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman, dan ide.
Di antara faktor yg dapat menambah keakraban ukhuwah sekaligus menjaganya dari kehancuran adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan sahabat.Sebaliknya, sering berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi keakraban.Tetapi tentunya semua itu dilakukan dg syarat tdk melanggar aturan syariat agama.
Terhadap saudara / sahabat, kita juga harus bersikap lembut dan tdk sombong. Anas bin Malik, pelayan Rasulullah saw pernah menceritakan tentang kelemah-lembutan Rasulullah. Kata beliau : “Aku menjadi pelayan Rasulullah saw selama 10 tahun, & selama itu beliau tdk pernah mengeluh / mengomentari pekerjaanku, seperti mengatakan, ‘Kenapa kamu lakukan ini?, juga tdk pernah berkomentar ketika aku tdk melakukan sesuatu, seperti mengatakan ‘Kenapa kamu tdk melakukan ini?
7. Memberi teguran di depan orang lain
Salah satu hak ukhuwah terhadap saudara kita adalah memberi nasihat apabila ia melakukan kemungkaran, maksiat / kesalahan, dengan tujuan agar ia kembali pada kebenaran sekaligus terhindar dari ancaman kemurkaan dan siksa Allah SWT.
Namun demikian, nasihat tdk boleh dilakukan secara terbuka di tengah keramaian umum, kecuali dengan alasan yg mendesak, karena merupakan sifat manusia, dia tdk suka jika keburukan-keburukan nya dibuka di depan umum. Lebih dari itu, menasihati / menyebut kesalahan seseorang di muka umum merupakan penyebab cepat pudarnya rasa cinta & mudah tertananam bibit-bibit permusuhan karena merasa dicemarkan & dihina, juga dapat menimbulkan sifat keras kepala & nafsu utk membalas dendam.
Lain halnya bila seseorang dikritik / dinasihati dalam keadaan menyendiri, ia akan lebih menerima, mampu memahami permasalahan dengan jelas, dan tertarik kepadamu karena merasa telah diberi pertolongan & diingatkan akan kesalahan yg telah dilakukan.
Terkadang ada orang yg memberi nasihat ingin melihat hasil dari usahanya secepat kilat, sehingga berharap agar orang yg dinasihatinya berubah seketika.Jika tdk demikian, ia berasumsi bahwa nasihatnya telah gagal, atau terus berupaya menekan orang yg dinasihati, sehingga lebih mirip sebuah pemaksaan kehendak daripada menasihati. Ia juga beranggapan bahwa orang yg dinasihati itu tdk mengerti nasihat yg diberikannya, atau belum menerima nasihat itu. Pandangan seperti itu adalah tdk benar, karena sudah menjadi tabiat umum manusia, mereka enggan mengakui kesalahan secara langsung, melainkan membutuhkan rentang waktu utk berpikir, atau mencari kesempatan utk kembali.
8. Sering menegur, tdk toleran dan cenderung negative thinking serta enggan memaafkan
Sikap sering menegur & menekan sahabat dapat mengakibatkan terpuruknya tali ukhuwah, karena sahabatmu beranggapan bahwa Anda tdk dapat menerima kekurangannya sekecil apapun, atau menganggapmu selalu diliputi prasangka buruk terhadapnya. Jika Anda terus menggunakan cara bergaul seperti ini, tentu Anda tdk akan mendapatkan seorang sahabat yg bebas dari kekurangan. Artinya, Anda tdk akan pernah bisa menjalin ukhuwah.
Dalam memilih teman / sahabat, kita perlu menentukan kriteria ideal, misal : akhlaqnya bagus, karena kita memang dianjurkan utk bergaul dengan orang-orang yg shalih. Akan tetapi perlu diingat juga bahwa tdk ada sahabat yg bebas dari kekurangan, sebagaimana Anda pun tdk lepas dari kekurangan. Maka terimalah kekurangannya sebagaimana ia menerima kekuranganmu. Fudhail bin ‘Iyadh berucap : “Siapa mencari sahabat tanpa cacat, niscaya sepanjang hidupnya tdk mendapat sahabat.”
Salah satu ciri ukhuwah yg tulus lainnya adalah suka memaafkan & lapang dada terhadap kesalahan. Hasan bin Wahb berkata : Di antara hak-hak ukhuwah adalah memaafkan kesalahan sahabat & terbuka atas segala kekurangannya.”Suatu kesalahan yg dilakukan oleh sahabat tdk boleh menjadi alasan utk menjauhi / putus darinya. Rasulullah saw bersabda :
“Penyambung persaudaraan bukanlah orang yg membalas kebaikan yg pernah diterimanya, namun penyambung persaudaraan adalah yg diputus hubungannya, lalu dia menyambungnya kembali.”(Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafii berkata :
Ketika aku memaafkan dan tdk menyimpan iri di hati & Jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa permusuhan
Kuucapkansalam di saat berjumpa lawan & Agar manahan bibit permusuhan
Dengan ucapan salam& Kutampakkan wajah berseri kepada orang yg kubenci
Seakan berbunga hatiku penuh kecintaan & Manusia adalah penyakit
Penawarnya dg cara mendekati dan Jika menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati
Jika sahabatmu menyakiti / berbuat kesalahan kepadamu, maka sikapilah dengan lapang dada dan maafkanlah jika sanggup memafkannya dengan penuh ketulusan. Namun jika tidak, tegurlah dengan baik, seperti yg dianjurkan oleh Abu Darda ra : “menegur saudaramu atas kesalahannya adalah lebih baik, daripada harus berpisah. Adakah yg sanggup menunjukkan kepadamu seorang sahabat yg sempurna?”
9. Mudah percaya hasutan orang-orang yg mengadu domba & memendam dengki
Merupakan kesalahan besar jika Anda mudah mempercayai isu yg berkembang mengenai sahabatmu, / menuduhnya telah melakukan perbuatan yg menyakitkan, hanya berdasarkan kepada kabar burung & isu yg diterima.Waspadalah, karena banyak orang yg dengki kepada orang-orang yg terikat dalam jalinan ukhuwah.Para pendengki tersebut mempunyai kecemburuan yg sangat tinggi.Mereka tdk suka melihat hubungan tulus yg begitu kuat mengikat hubungan orang2 yg bersahabat, mereka tdk tenang selama tali ukhuwah tersebut belum tercerai-berai.
Oleh karena itulah, orang2 yg dipertemukan oleh Allah SW dalam sebuah jalinan ukhuwah harus yakin bahwa satu sama lainnya saling mencintai karena Allah, saling mencintai dengan penuh ketulusan yg muncul dari nurani yg paling dalam. Dengan demikian, sekuat apapun para pendengki memusuhi, tetap tdk akan mampu menggoyahkan kokohnya konstruksi ukhuwah.
Firman Allah SWT :
“…Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana…” (QS. Al Anfaal : 63)
10. Membuka Rahasia
Salah satu faktor yg dapat mempertahakankan ukhuwah adalah menjaga rahasia sahabat agar tdk tersebar. Rasulullah saw bersabda :
“Jika seseorang diberitahu oleh sahabatnya mengenai suatu hal, lalu ia pergi, maka hal tersebut telah menjadi amanat (rahasia yg harus dijaga) baginya.” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Sebagian ulama membuat ilustrasi mengenai sahabat yg membawa malapetaka jika dekat dengannya, yaitu orang yg jika dekat, ia berusaha mengetahui rahasia, mengumpulkan data-data yg berhubungan dengan kita, memperhatikan kesalahan & kekurangan, menghitung kesalahan-kesalahan kecil yg tdk disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir ucapan / perbuatan spontan dalam keadaan biasa maupun sedang marah, atau di dalam pembicaraan terbuka dan lepas yg siapapun sulit terhindar dari kelalaian, kemudian ia menjadikan semua itu sebagai senjata utk menjatuhkan sahabtanya di kala terjadi perselisihan”. Semoga kita semua terhindar menjadi sosok sahabat yg seperti ini.Naudzubillah mindzalik.
11. Mengikuti prasangka
Mempunyai prasangka bahwa sahabatmu menyembunyikan sesuatu darimu juga dapat menyakitinya.Apalagi jika Anda sudah membangun sikap-sikap tertentu berdasarkan prasangka tersebut. Selain bisa menyakitinya, hal ini juga betul-betul akan menyakiti dirimu sendiri, karena prasangka buruk dapat merusak ketulusan perasaan hatimu terhadapnya.
Oleh karena itu, ketulusan hati & prasangka baik merupakan salah satu faktor yg dapat mempertahankan hubungan ukhuwah.
Dengan alasan tersebut Allah & Rasul-Nya melarang kita berburuk sangka & mengikutinya.
“…Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang…” (QS. Al hujuraat : 12)
Sabda Rasulullah :
“Hindarilah prasangka (buruk), karena prasangka (buruk) adalah ucapan yg paling dusta.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
Prasangka buruk dapat mendorong kepada perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan) yg dilarang oleh agama.Juga dapat mendorong utk menjelek-jelekkan sahabat. Betapa jauh dari cinta dan makna ukhuwah, orang yg jika marah terhadap sahabatnya, ia langsung berprasangka buruk / mengejeknya di hadapan orang lain.
12. Mencampuri masalah pribadi
Termasuk dalam hal mencampuri urusan pribadi adalah mencari-cari kesalahan, mencuri pendengaran, serta turut campur dalam masalah yg tdk ada gunanya bagi kita.
Sabda Rasulullah :
“Jangan mencari-cari kesalahan (tajassus), mencuri pendengaran (tahassus), saling bermusuhan & saling menjauhi.Jadilah hamba-hamba Allah yg bersaudara.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yg tdk berguna baginya.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dalam sirah sahabat Nabi dikisahkan, ada seorang sahabat Nabi yg sakit.Ketika para sahabat dan kerabat menjenguknya, mereka merasa heran ketika melihat wajah sahabat yg sakit tersebut begitu ceria.Lalu mereka bertanya mengenai sebab keceriaannya. Ia menjawab : “ Ada dua amalan yg benar-benar kuyakini pahalanya sangat besar, yaitu aku tdk pernah berbicara mengenai hal-hal yg tdk berguna, & hatiku bersih dai segala perasaan kotor terhadap sesama kaum muslim.”
13. Egois, arogan, tdk berempati dengan penderitaan saudara & tdk memperhatikan masalah serta kebutuhannya
Suatu pelajaran yg indah dapat kita petik dari cerita Harun bin Abdillah ra ketika ia berkata : “Pada suatu saat, Ahmad bin Hambal mengunjungiku di tengah malam. Kudengar pintu diketuk, maka aku bertanya : “Siapa di luar sana ?” Ia menjawab : “Aku, Ahmad”. Segera kubuka pintu dan menyambutnya. Aku mengucapkan salam dan ia pun demikian. Lalu aku bertanya : “Keperluan apakah yg membawamu kemari?” Ahmad menjawab : “Siang tadi, sikapmu mengusik hatiku.” Aku bertanya : “Masalah apakah yg membutmu terusik, wahai Abu Abdillah?” Ahmad menjawab : “Siang tadi aku lewat di samping halaqoh-mu, ketika engkau sedang mengajar murid-muridmu, engkau duduk di bawah bayang-bayang pohon sedangkan murid-muridmu secara langsung terkena terik matahari dengan tangan memegang pena & catatan. Jangan kau ulangi perbuatan itu di kemudian hari.Jika engkau mengajar maka duduklah dalam kondisi yg sama dengan murid-muridmu.”
Dalam kisah di atas, setidaknya ada dua catatan yg layak direnungkan.
1. Yang bercerita bukan pihak yg memberi nasihat, melainkan orang yg dinasihati dan ia tergugah dengan nasihat tersebut.
2. kelembutan dan kehalusan gaya nasihat Imam Ahmad. Ia menyampaikannya secara sembunyi di tengah malam, dengan menggunakan kata-kata “Sikapmu mengusik hatiku”, benar-benar suatu ungkapan yg lembut. Ia tdk mengatakan, misalnya “Kamu telah menyakiti manusia….”
Faktor lain yg dapat memperkokoh ukhuwah adalah berempati terhadap penderitaan saudara dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya.
Sabda Rasulullah :
“Siapa yg mencukupi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah mencukupi kebutuhannya Siapa yg menolong seorang mukmin dari suatu kesusahan, niscaya Allah akan menolongnya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat.Siapa yg menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Dalam hal mencukupi kebutuhan saudara kita;
· Skala paling rendah adalah sebatas mencukupi kebutuhannya ketika diminta dan kita mampu, dan bantuan tersebut diberikan dengan syarat hati merasa senang & bahagia.
· Skala pertengahan adalah mencukupi kebutuhannya tanpa ia minta.
· Skala yg tertinggi adalah mengutamakan kebutuhan saudara kita daripada kebutuhan kita sendiri.
Sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya dan namun ketika susah hanya sedikit yg tersisa
Maka jangan terpedaya dengan kebaikan seorang sahabat dan namun ketika musibah menimpa tiada yg mengiba
Semua sahabat menyatakan dirinya setia dan namun tdk semua berbuat seperti ucapannya
Kecuali sahabat yg penuh derma dan taat agama dan itulah sahabat yg berbuat sama dengan kata-katanya
14. Menutup diri, berlebihan, membebani & menghitung-hitung kebaikan
Jika Anda ingin membuat hati seorang sahabat menjadi senang dan bersikap terbuka apa adanya, maka hindarilah menutup diri dan jangan membuatnya merasa terbebani, jangan menghitung-hitung kebaikannya kepadamu, jangan memberatkannya agar melayanimu, dan bersikaplah rendah hati.
Dalam hal ini, cara pandang yg paling baik adalah kamu menganggap dirimu lebih layak melayani daripada dilayani, dengan demikian kamu cenderung menganggap dirimu sebagai pelayan. Barangkali Umar bin Khaththab adalah sosok yg bisa dijadikan contoh. Beliau berbuat baik kepada siapa saja, tdk hanya sahabat dekat, melainkan juga budak-budaknya.
Menurut Aslam, salah seorang pelayan Umar, pada suatu malam terkejut mendapati Umar sedang mengurus kuda-kuda pelayannya dan kudanya sendiri, seraya melantunkan puisi :
Jangan biarkan malam ini membuat hatimu resah dan Hiasilah ia dengan sehelai baju dan sorban
Jadilah sahabat baik bagi Naif dan Aslam dan Layanilah mereka
15. Enggan mengungkapkan perasaan cinta, enggan membela sahabat ketika aibnya disebut
Tentang menyatakan cinta pd saudara Rasulullah bersabda:
“Jika seorang di antara kamu mencintai saudarnya karena Allah, maka kabarkanlah kepadanya, karena hal itu dapat mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
Di antara hak ukhuwah adalah membela dan mempertahankan nama baik sahabat. Rasulullah bersabda :
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yg lain, tdk boleh menzhalimi dan menyerahkannya”. (HR. Bukhari, Ahmad)
16. Melupakannya karena sibuk mengurusi orang lain dan kurang setia
Di antara gambaran akhlaq buruk dalam berukhuwah adalah ketika kita mendapatkan seorang sahabat baru lantas meninggalkan sahabat yg telah kita kenal dalam jangka waktu lama. Salah satu penyebab kekecewaan sahabat adalah ketika ia berusaha sekuat tenaga utk dekat denganmu dan selalu mengutamakanmu dari siapapun juga, ia justru mendapatimu tdk setia dan tdk menghargainya.
Tidak setia terhadap sahabat juga dapat memutuskan tali ukhuwah. Tanda-tanda kesetiaan terhadap sahabat di antaranya adalah :
· berdoa untuknya dari kejauhan, baik selama ia hidup / setelah kematiannya, berbuat baik kepada orang yg dicintainya juga keluarganya.
· konsiten dengan sikap tawadhu (rendah hati) terhadap sahabat, sekalipun kedudukan ataupun ilmu Anda lebih tinggi darinya.
17. Mengingkari janji dan kesepakatan tanpa alasan yg jelas
Sifat buruk ini akan menumbuhkan anggapan dalam diri sahabat Anda bahwa Anda tdk memperhatikannya, karena orang yg mengingkari janji atau kesepakatan berarti telah meninggalkan sesuatu yg dianggap kurang penting demi meraih sesuatu yg dianggap lebih pening. Alasan ini sudah cukup kuat utk membuat sahabatmu sedih, menodai cinta dan merusak ukhuwah.
18. Selalu menceritakan perkara yg menyedihkan dan suka menyampaikan berita yg membuat resah
Ibnu Hazm ra bekata : “Jangan sampaikan beritayang membuat saudaramu sedih atau tdk bermanfaat baginya, karena itu adalah perbuatan orang-orang kerdil. Dan jangan menyembunyikan berita yg bisa membahayakannya jika ia tdk tahu, karena itu merupakan pekerjaan orang-orang jahat.”
Yahya bin Muadz berkata : “Jadikanlah tiga hal berikut ini sebagai sikapmu terhadap orang-orang mukmin; jika tdk bisa memberi manfaat, maka jangan membahayakannya; jika tdk bisa membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih; Jika tdk memujinya, maka jangan mencacinya.”
19.Terlalu cinta
Maksudnya adalah menghindari hal-hal yg berlebihan, seprti ketergantungan atau rasa suka terhadap sahabat, membebani diri dengan beban yg terlalu berat dalam upaya melayani atau mendekatinya.
Rasulullah saw bersabda :
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti.Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.” (HR. Bukhari, Tirmidzi)
Abul-Aswad berkata :
Cintailah kekasihmu dengan cinta yg sederhana &# Karena kamu tdk tahu kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah &# Tapi jangan menjauhi
Karena kamu tdk tahu &# Kapan harus kembali
Mencintai sahabat secara berlebihan malah akan melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yg terus merangkak namun menanjak daripada cinta yg melonjak namun lekas surut. Namun demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih besar dari cintanya kepadamu, agar mendapat fadhilah (keutamaan) dari Allah melalui sabda Rasul-Nya :
“Tidaklah dua orang yg saling mencintai karena Allah, kecuali orang yg lebih besar cintanya adalah yg lebih utama di antara keduanya.” (HR. Bukhari)
Jadikan tulisan ini sebagai bahan instrospeksi, menilai diri sendiri utk memperbaiki kadar ukhuwah & menunaikan hak ukhuwah saudaraku. Jangan jadikan tulisan ini sebagai bahan utk menilai sahabat-sahabat Anda, karena jika itu dilakukan, Anda pasti akan lebih memilih utk ‘uzlah / menyendiri. Wallahualam.
Sumber: al-ikhwan.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar