Manajemen Gengsi
Gengsi pada tempatnya akan mengangkat derajat seseorang. Sebaliknya, bila tidak waspada, gengsi dapat menjerumuskan seseorang dalam lingkaran kehinaan.
Betapa banyak orang dapat hidup mulia meski bersahaja dengan memelihara diri dari berbuat salah, hina, dan merendahkan diri kepada orang lain. Begitu juga, betapa banyaknya orang yang semakin mulia, berilmu dan bermartabat karena mampu menaklukkan gengsi untuk mengakui kekurangannya sehingga tidak segan untuk bertanya, meminta maaf dan mengoreksi diri sendiri.
Menerima diri apa adanya
Gengsi merupakan sikap untuk mewujudkan harga diri (self-esteem). Sikap ini dapat dikenali melalui cara bertindak dan berperilaku, sikap, keyakinan, cara pandang dan menempatkan diri, serta emosi kita. Yang semuanya berhubungan dengan usaha membangun harga diri yang positif dan mengembangkan pencitraan diri.
Harga diri, menurut Grant Brecht dalam Sorting Out Self-Esteem (1996), pada hakekatnya merupakan sikap menerima diri apa adanya. Sehingga kita memiliki keyakinan bahwa diri kita layak, mampu dan berguna dalam hal apapun yang telah, sedang dan akan terjadi dalam hidup kita.
Mangelola gengsi dalam hubungannya dengan harga diri sangatlah penting, karena menyangkut upaya membangun citra dan harga diri positif secara benar. Dasar manajemen gengsi adalah prinsip harga diri. Prinsip ini dapat dijabarkan sebagai berikut; harga diri merupakan fondasi untuk mengembangkan kepribadian, meyakini diri sendiri apa adanya; pengembangan harga diri dapat dipelajari dan dilatih; dan seni mengembangkan harga diri secara benar akan menghindarkan seseorang dari ketergelinciran citra dan martabat.
Melatih pengelolaan gengsi secara benar, menggali potensi harga diri yang sehat, serta mewariskannya kepada anak-anak kita sangatlah bermanfaat. Sebab, psikolog kondang Amerika, Dr. Martin Seligman, penulis buku Learned Helplessness dan Know What You Can Change, Know What You Can’t menyebutkan, perilaku ini merupakan jembatan untuk mengatasi depresi, sikap pesimis, sinis dan negatif dalam budaya keluarga.
Banyak ahli mengatakan, orang yang memiliki rasa gengsi yang sehat akan mengutamakan apa yang dapat, tengah dan telah mereka lakukan. Mereka juga menghargai diri sendiri, berani mengkritik perilaku sendiri -bukan mencela diri-, menuntut pengakuan dari orang lain secara proporsional, teguh dan tegak untuk suatu kebenaran yang diyakininya dan teruji kesahihannya.
Mengapa harus gengsi?
Rasulullah adalah contoh utama dalam hal pengelolaan gengsi yang sehat. Gengsi Rasulullah saw untuk mengorbankan prinsip dan risalah hidupnya sehingga tidak gampang menyerah pada ajakan kaum sesat, telah menghantarkan beliau meraih kesuksesan membawa umatnya kepada cahaya ilahi. Begitu juga, kemampuan beliau untuk menaklukkan rasa gengsi membuatnya mampu berlaku rendah hati, tidak segan meminta keridhaan dan maaf dari para pengikutnya. Sikap yang justru menambah cinta umat kepadanya.
Kemampuan mengelola perasaan gengsi juga dimiliki para sahabat Rasulullah saw. Khalid bin Walid, contohnya. Ia mampu mengubur gengsi dirinya untuk mencium kaki Bilal, karena Bilal mau memaafkannya setelah ia menghina Bilal.
Surat ‘Abasa pun turun sebagai peringatan tentang berbahayanya rasa gengsi untuk melakukan kebaikan. Surat ini merupakan teguran Allah kepada Rasulullah untuk menaklukkan rasa gengsinya. Gengsi karena sahabat setianya yang bersahaja, lemah dan cacat menghampirinya di forum ‘bergengsi’, saat beliau sedang ‘melobi’ kaum elit Mekkah.
Kutukan abadi yang menimpa Iblis juga dikarenakan rasa gengsinya untuk mengikuti perintah Allah agar sujud menghormati Adam. Iblis merasa dilecehkan karena harus hormat kepada manusia yang diciptakan Allah dari tanah, sementara ia merasa lebih mulia karena tercipta dari api.
Tingginya keilmuan dan ketakwaan para sahabat, bukan semata karena kedekatan mereka dengan sang panutan Rasulullah, tetapi juga karena mereka mampu mengelola gengsi untuk tidak malu bertanya, belajar dan mengevaluasi diri. Kehati-hatian dalam menjalani kehidupan akan tercapai dengan prinsip tidak malu bertanya apabila tidak tahu. Sehingga tidak tersesat dan menyesatkan. Sebab, sikap sok tahu dan sok suci, akan membuat manusia menjadi takabbur, ghurur dan lupa diri.
Mewaspadai gengsi
Karena itulah, kita perlu waspada terhadap rasa gengsi yang dapat menyeret kepada pencitraan diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Untuk itu, langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Jangan bersikap negatif dan pesimis terhadap masa depan.
2. Hilangkan reaksi serta pikiran negatif dan irasional. Berusahalah untuk mendapatkan pengalaman baru,
3. Jangan melimpahkan kesalahan kepada orang lain atas berbagai ketidakberesan diri sendiri (external locus of control).
4. Buang perasaan tak berdaya dan tak berguna, namun jangan berlebihan mengukur kemampuan dan kebaikan diri.
Harga diri yang rendah akan menyebabkan citra diri yang rendah, depresi, dan merasa kurang berhasil. Sementara itu, harga diri yang tinggi akan menyebabkan citra diri yang positif, keberhasilan yang terfokus, dan pola hidup yang seimbang. Kita pun bisa terhindar dari serangan gangguan psikologis berupa sifat lekas marah, murung, sedih, dan tidak toleran.
Harga diri yang tinggi, tidak dapat dicapai dengan rasa gengsi yang tidak sehat. Misalnya enggan mendahului bersikap ramah dan segan mengawali kebaikan kepada orang lain.
Richard Carlson dan Kristine Carlson dalam Don’t Sweat the Small Stuff in Love (1999) menganjurkan untuk tetap bersikap ramah dan damai dalam keadaan apapun. Bahkan, penulis ini menjadikan hal itu sebagai prioritas utama yang harus dimulai dari keluarga dan pasangan.
Menunjukkan keramahan yang tulus, bukan berarti menyungging senyum ketika Anda sedang tidak ingin tersenyum. Yang penting adalah memperlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan oleh orang lain, sebagaimana disinggung oleh Nabi saw, bahwa seseorang tidak akan sempurna imannya sehingga berlaku cinta terhadap saudaranya, sebagimana ia mencintai dirinya sendiri.
Gengsi juga tidak identik dengan sikap kaku dan keras kepala yang tidak proporsional. Sebab, gengsi yang tidak proporsional ini dapat menyebabkan kita untuk bersikap kaku dalam bergaul, tterjebak pada pola melawan dan menentang arus.
Bersikap bijaksana
Sebaliknya, sosok pribadi yang bijak, akan mendahulukan kerendahan hati serta sikap cerdas, sehingga dapat mengurangi benturan tanpa terbawa arus namun tetap dapat mencapai tujuan.
Jangan mendahulukan gengsi dengan serta merta menolak sesuatu. Cobalah bersikap arif dan menghadapi sesuatu dengan proses dialogis yang damai, rasional dan argumentatif. Bukan asal ‘pokoknya begini, pokoknya begitu!’ Bukankah Allah menyuruh kita untuk untuk membudayakan penegakan kebenaran dan kebaikan dengan kearifan, nasehat yang baik dan dialog yang sehat? (QS.An-Nahl:125)
Gengsi yang berlebihan acap kali juga menyuburkan sikap cenderung merasa benar sendiri serta tidak membutuhkan orang lain. Padahal, segala sesuatu harus dapat dinilai oleh orang mukmin yang lain dengan parameter yang benar (QS.At-Taubah:105).
Danielle Crittenden Lewat What Our Mothers Didn’t Tell Us: Why Happiness Eludes the Modern Women (1999), mengingatkan kita untuk mewaspadai sikap egois yang dapat menyebabkan kita tidak peduli kepada penilaian orang lain, termasuk orang-orang yang kita cintai. Karena pada hakekatnya, kepuasan hidup akan dirasakan seseorang apabila ia mengetahui bahwa ia melakukan hal-hal yang bukan saja benar bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi orang-orang yang dicintainya.
Ketika seseorang berbelanja berlebihan meskipun harus berhutang karena ingin dipandang orang lain, atau tenggelam dalam pluralisme dan kemajemukan dengan dalih ingin tetap dipandang dan diterima semua kalangan. Atau ketika seseorang malu mengatakan tidak tahu dan segan untuk bertanya apa yang tidak dipahaminya karena jaga reputasi, maka semuanya itu bukanlah refleksi gengsi yang sehat.
Bersikap mulia, meski dalam bungkus kesahajaan dan bersikap apa adanya. Ketakwaan yang memproyeksikan sikap tawadhu’, kejujuraan, kehati-hatian, dan berkepribadian yang mandiri, itulah sebenarnya wujud refleksi gengsi yang sehat. (QS.Al-Kahfi:104, An-Nisa’:128)
Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah
Betapa banyak orang dapat hidup mulia meski bersahaja dengan memelihara diri dari berbuat salah, hina, dan merendahkan diri kepada orang lain. Begitu juga, betapa banyaknya orang yang semakin mulia, berilmu dan bermartabat karena mampu menaklukkan gengsi untuk mengakui kekurangannya sehingga tidak segan untuk bertanya, meminta maaf dan mengoreksi diri sendiri.
Menerima diri apa adanya
Gengsi merupakan sikap untuk mewujudkan harga diri (self-esteem). Sikap ini dapat dikenali melalui cara bertindak dan berperilaku, sikap, keyakinan, cara pandang dan menempatkan diri, serta emosi kita. Yang semuanya berhubungan dengan usaha membangun harga diri yang positif dan mengembangkan pencitraan diri.
Harga diri, menurut Grant Brecht dalam Sorting Out Self-Esteem (1996), pada hakekatnya merupakan sikap menerima diri apa adanya. Sehingga kita memiliki keyakinan bahwa diri kita layak, mampu dan berguna dalam hal apapun yang telah, sedang dan akan terjadi dalam hidup kita.
Mangelola gengsi dalam hubungannya dengan harga diri sangatlah penting, karena menyangkut upaya membangun citra dan harga diri positif secara benar. Dasar manajemen gengsi adalah prinsip harga diri. Prinsip ini dapat dijabarkan sebagai berikut; harga diri merupakan fondasi untuk mengembangkan kepribadian, meyakini diri sendiri apa adanya; pengembangan harga diri dapat dipelajari dan dilatih; dan seni mengembangkan harga diri secara benar akan menghindarkan seseorang dari ketergelinciran citra dan martabat.
Melatih pengelolaan gengsi secara benar, menggali potensi harga diri yang sehat, serta mewariskannya kepada anak-anak kita sangatlah bermanfaat. Sebab, psikolog kondang Amerika, Dr. Martin Seligman, penulis buku Learned Helplessness dan Know What You Can Change, Know What You Can’t menyebutkan, perilaku ini merupakan jembatan untuk mengatasi depresi, sikap pesimis, sinis dan negatif dalam budaya keluarga.
Banyak ahli mengatakan, orang yang memiliki rasa gengsi yang sehat akan mengutamakan apa yang dapat, tengah dan telah mereka lakukan. Mereka juga menghargai diri sendiri, berani mengkritik perilaku sendiri -bukan mencela diri-, menuntut pengakuan dari orang lain secara proporsional, teguh dan tegak untuk suatu kebenaran yang diyakininya dan teruji kesahihannya.
Mengapa harus gengsi?
Rasulullah adalah contoh utama dalam hal pengelolaan gengsi yang sehat. Gengsi Rasulullah saw untuk mengorbankan prinsip dan risalah hidupnya sehingga tidak gampang menyerah pada ajakan kaum sesat, telah menghantarkan beliau meraih kesuksesan membawa umatnya kepada cahaya ilahi. Begitu juga, kemampuan beliau untuk menaklukkan rasa gengsi membuatnya mampu berlaku rendah hati, tidak segan meminta keridhaan dan maaf dari para pengikutnya. Sikap yang justru menambah cinta umat kepadanya.
Kemampuan mengelola perasaan gengsi juga dimiliki para sahabat Rasulullah saw. Khalid bin Walid, contohnya. Ia mampu mengubur gengsi dirinya untuk mencium kaki Bilal, karena Bilal mau memaafkannya setelah ia menghina Bilal.
Surat ‘Abasa pun turun sebagai peringatan tentang berbahayanya rasa gengsi untuk melakukan kebaikan. Surat ini merupakan teguran Allah kepada Rasulullah untuk menaklukkan rasa gengsinya. Gengsi karena sahabat setianya yang bersahaja, lemah dan cacat menghampirinya di forum ‘bergengsi’, saat beliau sedang ‘melobi’ kaum elit Mekkah.
Kutukan abadi yang menimpa Iblis juga dikarenakan rasa gengsinya untuk mengikuti perintah Allah agar sujud menghormati Adam. Iblis merasa dilecehkan karena harus hormat kepada manusia yang diciptakan Allah dari tanah, sementara ia merasa lebih mulia karena tercipta dari api.
Tingginya keilmuan dan ketakwaan para sahabat, bukan semata karena kedekatan mereka dengan sang panutan Rasulullah, tetapi juga karena mereka mampu mengelola gengsi untuk tidak malu bertanya, belajar dan mengevaluasi diri. Kehati-hatian dalam menjalani kehidupan akan tercapai dengan prinsip tidak malu bertanya apabila tidak tahu. Sehingga tidak tersesat dan menyesatkan. Sebab, sikap sok tahu dan sok suci, akan membuat manusia menjadi takabbur, ghurur dan lupa diri.
Mewaspadai gengsi
Karena itulah, kita perlu waspada terhadap rasa gengsi yang dapat menyeret kepada pencitraan diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Untuk itu, langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Jangan bersikap negatif dan pesimis terhadap masa depan.
2. Hilangkan reaksi serta pikiran negatif dan irasional. Berusahalah untuk mendapatkan pengalaman baru,
3. Jangan melimpahkan kesalahan kepada orang lain atas berbagai ketidakberesan diri sendiri (external locus of control).
4. Buang perasaan tak berdaya dan tak berguna, namun jangan berlebihan mengukur kemampuan dan kebaikan diri.
Harga diri yang rendah akan menyebabkan citra diri yang rendah, depresi, dan merasa kurang berhasil. Sementara itu, harga diri yang tinggi akan menyebabkan citra diri yang positif, keberhasilan yang terfokus, dan pola hidup yang seimbang. Kita pun bisa terhindar dari serangan gangguan psikologis berupa sifat lekas marah, murung, sedih, dan tidak toleran.
Harga diri yang tinggi, tidak dapat dicapai dengan rasa gengsi yang tidak sehat. Misalnya enggan mendahului bersikap ramah dan segan mengawali kebaikan kepada orang lain.
Richard Carlson dan Kristine Carlson dalam Don’t Sweat the Small Stuff in Love (1999) menganjurkan untuk tetap bersikap ramah dan damai dalam keadaan apapun. Bahkan, penulis ini menjadikan hal itu sebagai prioritas utama yang harus dimulai dari keluarga dan pasangan.
Menunjukkan keramahan yang tulus, bukan berarti menyungging senyum ketika Anda sedang tidak ingin tersenyum. Yang penting adalah memperlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan oleh orang lain, sebagaimana disinggung oleh Nabi saw, bahwa seseorang tidak akan sempurna imannya sehingga berlaku cinta terhadap saudaranya, sebagimana ia mencintai dirinya sendiri.
Gengsi juga tidak identik dengan sikap kaku dan keras kepala yang tidak proporsional. Sebab, gengsi yang tidak proporsional ini dapat menyebabkan kita untuk bersikap kaku dalam bergaul, tterjebak pada pola melawan dan menentang arus.
Bersikap bijaksana
Sebaliknya, sosok pribadi yang bijak, akan mendahulukan kerendahan hati serta sikap cerdas, sehingga dapat mengurangi benturan tanpa terbawa arus namun tetap dapat mencapai tujuan.
Jangan mendahulukan gengsi dengan serta merta menolak sesuatu. Cobalah bersikap arif dan menghadapi sesuatu dengan proses dialogis yang damai, rasional dan argumentatif. Bukan asal ‘pokoknya begini, pokoknya begitu!’ Bukankah Allah menyuruh kita untuk untuk membudayakan penegakan kebenaran dan kebaikan dengan kearifan, nasehat yang baik dan dialog yang sehat? (QS.An-Nahl:125)
Gengsi yang berlebihan acap kali juga menyuburkan sikap cenderung merasa benar sendiri serta tidak membutuhkan orang lain. Padahal, segala sesuatu harus dapat dinilai oleh orang mukmin yang lain dengan parameter yang benar (QS.At-Taubah:105).
Danielle Crittenden Lewat What Our Mothers Didn’t Tell Us: Why Happiness Eludes the Modern Women (1999), mengingatkan kita untuk mewaspadai sikap egois yang dapat menyebabkan kita tidak peduli kepada penilaian orang lain, termasuk orang-orang yang kita cintai. Karena pada hakekatnya, kepuasan hidup akan dirasakan seseorang apabila ia mengetahui bahwa ia melakukan hal-hal yang bukan saja benar bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi orang-orang yang dicintainya.
Ketika seseorang berbelanja berlebihan meskipun harus berhutang karena ingin dipandang orang lain, atau tenggelam dalam pluralisme dan kemajemukan dengan dalih ingin tetap dipandang dan diterima semua kalangan. Atau ketika seseorang malu mengatakan tidak tahu dan segan untuk bertanya apa yang tidak dipahaminya karena jaga reputasi, maka semuanya itu bukanlah refleksi gengsi yang sehat.
Bersikap mulia, meski dalam bungkus kesahajaan dan bersikap apa adanya. Ketakwaan yang memproyeksikan sikap tawadhu’, kejujuraan, kehati-hatian, dan berkepribadian yang mandiri, itulah sebenarnya wujud refleksi gengsi yang sehat. (QS.Al-Kahfi:104, An-Nisa’:128)
Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah
Oleh : Dr. Setiawan Budi Utomo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar